2

ESEMKA mobil produk anak SMK.........SMK Bisa !

Posted by kang_doels on 08.24 in


Mobil Esemka, Tantangan Bagi SMK



Esemka Pancing Industri Dalam Negeri

Kehadiran 5 jenis mobil hasil rakitan anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yakni Esemka dimaksudkan untuk memancing minat industri dalam negeri.

"Bahwa kita mempunyai SDM handal yang bisa memajukan industri otomotif tanah air," ujar Staf Ditjen Pembinaan SMK Depdiknas Ari Setiawan ketika berbincang dengan detikOto akhir pekan lalu.

Keinginannya untuk memancing pemain bisnis digambarkan melalui bimbingan Depdiknas terhadap siswa SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, Magelang Yogyakarta, SMK 4 Negeri Jakarta dan SMK 1 Cibinong yang terlatih untuk membangun sebuah kendaraan Esemka berkapasitas 1.500 cc.

"Kita melatih anak SMK untuk membuat mobil dan akhirnya kita punya SDM yang terlatih untuk membangun sebuah mobil, dan diharapkan kreasi ini bisa memotivasi pemain industri otomotif," ujarnya.



Selain itu, lanjut Ari, dengan kemapuan SDM yang terlatih, tenaga anak-anak ini bisa membantu membangun indutri otomotif dalam negeri.




Mobil double cabin yakni Esemka Digdaya hasil kreasi siswa SMK 1 Singosari, Malang sepertinya memang layak diacungi jempol.

Sebab walaupun hanya diberi waktu pengerjaan 3 bulan saja, 50 siswa yang terlibat dalam proyek pembuatan mobil ini terbukti sanggup mengerjakan semuanya dengan sangat rapi.

Siswa-siswa ini pun tidak sampai harus kehilangan akal dengan waktu yang singkat itu, sebab mereka malah beranggapan itu semua adalah bagian dari tantangan.

"Mereka semua tertantang menyelesaikan proyek ini," ujar Kepala Sekolah SMK 1 Singosari Malang Bagus Gunawan ketika berbincang dengan detikOto, beberapa waktu lalu.

Karena itulah, siswa ini pun mulai mencari inspirasi ke berbagai sumber dan terciptalah sebuah desain mobil double cabin yang kekar namun elegan.

Tantangan pun berlanjut, karena setelah memegang desain tersebut siswa ini harus mampu mewujudkannya.

Hal itu bukanlah perkara yang mudah, karena mereka hanya diberi bekal sebuah mesin injeksi eks Timor berkapasitas 1.500 cc.

Karena itulah untuk memulai proyek tersebut maka siswa ini pun mulai memilih komponen yang dirasa pas untuk mobil double cabin impian mereka.

Untuk bagian kerangka, mereka memilih kerangka Isuzu Panther dengan suspensi dari Mitsubishi L300.

"Kami memilih keduanya karena keduanya memang sudah terbukti kehandalannya," jelas bagus.

Setelah itu baru mereka membuat bodi mobil double cabin tersebut. Pembuatannya pun bukan tanpa kendala, karena semua bagian dari bodi ini mereka kerjakan secara hand made.

"Jadi kalau ada yang tidak cocok sedikit harus dibuat lagi," ujarnya.

Setelah semuanya selesai tantangan selanjutnya menurut Bagus adalah membuat dudukan yang pas untuk mesin yang mereka miliki.

Namun sebelum itu, mesin yang mereka miliki pun ternyata belum mempunyai transmisi dan final gear. Karena itulah siswa-siswa ini memutar otak untuk mencari komponen mesin yang pas.

"Untuk transmisi dan final gear kami gunakan milik Suzuki Escudo agar tenaga yang di hasilkan makin kuat dan tidak ngedrop," papar Bagus.

Kerja keras selama 3 bulan ini pun terbayar sudah, sebab mobil ini sudah diakui kualitasnya.

"Kemarin mobil ini baru diresmikan Pak Bupati Malang," ujarnya.

Rencananya jika tidak ada aral melintang, mobil-mobil Esemka ini akan diperlihatkan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Esemka Alternatif di Tengah Krisis


Mobil nasional buatan siswa SMK yakni Esemka dianggap bisa menjadi alternatif pilihan kendaraan di tengah melonjaknya harga mobil akibat meningkatnya nilai tukar yen dan dolar AS.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno ketika berbincang dengan detikOto.

"Karena akan dijual dengan harga yang terjangkau, Esemka bisa jadi alternatif di tengah krisis sekarang ini," ujar Joko.

Alasannya tentu saja karena kelima mobil prototipe Esemka ini, bila nanti jadi diproduksi massal akan dihargai dengan banderol yang sangat bersahabat.

Sebab kelima model Esemka yang ada hanya dipatok dengan harga antara Rp 80 juta saja, hanya Digdaya yang diproyeksi bisa berharga Rp 110 juta.

"Karena harga Esemka terbilang murah, bila nanti jadi diproduksi massal, mobil ini tentu bisa jadi alternatif," tandas Joko.


Digdaya, Si Esemka Double Cabin



Kondisi alam Indonesia dan kenyataan bahwa sebagian masyarakatnya hidup sebagai pedagang dan petani membuat pick up double cabin memjadi pilihan bijak.

Karena itulah SMK 1 Singosari Malang memilih model ini pada mobil ciptaannya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Sekolah SMK 1 Singosari Malang Bagus Gunawan ketika berbincang dengan detikOto, Jumat (22/5/2009).

"Kami memilih model double cabin karena model ini dirasa sangat bermanfaat untuk masyarakat Indonesia kebanyakan," paparnya.

SMK yang dipimpin Bagus 'kebagian proyek' mengerjakan mobil Esemka 1.500 cc. Sekolahnya kebagian mengerjakan mobil pick up double cabin, sedangkan SMK lainnya mengerjakan model mobil lainnya.

Bagus menuturkan, kondisi alam Indonesia yang lumayan keras dengan aktifitas masyarakatnya yang tinggi membutuhkan sebuah mobil yang tangguh.

Apalagi masyarakat kita pun sebagian besar adalah petani, nelayan dan pedagang yang membutuhkan sebuah kendaraan pengangkut barang yang kuat.

"Dengan double cabin ini, masyarakat dapat menempatkan lebih banyak barang bawaannya," tandas Bagus.

Terlebih kendaraan ini pun juga memiliki tempat untuk penumpang di kabin baris kedua yang membuat pekerja yang membantu mengantarkan barang jadi lebih manusiawi.

Jadi double cabin dianggap sebagai sebuah model kendaraan yang paling pas dan berguna untuk masyarakat Indonesia dibandingkan dengan model lainnya.

"Motivasi awal kami memang ingin membuat sebuah mobil yang berguna bagi orang banyak, dan menurut kami double cabin dapat melakukannya," terang Bagus.


Rosa, Si Bongsor dari Malang


SMK Negeri 6 Malang pun tak mau ketinggalan dalam urusan berinovasi. Berbekal mesin yang sama dengan ke-4 tipe mobil nasional Esemka lainnya, sebuah van dilahirkan dengan nama Rosa Van 1.5i.

Disokong oleh sasis dari Toyota Hiace, mobil ini mampu menampung 8 orang dewasa, selayaknya mobil van dengan 8 seaternya.

Ruang kabin pun terasa lega, meskipun balutan kemewahan belum dijadikan acuan dalam mendesain ruang kabin.

Namun, mobil sebesar ini juga disematkan dengan kapasitas mesin yang sama, yakni 1.500 cc Multi EFI. Dengan muatan penuh, sempat timbul kesangsian, apakah mesin tersebut mumpuni untuk menggerakan bodi bongsor Rosa Van ini.

"Itu dia, untuk mengimbangi berat bodi, kita menggunakan gearbox Toyota Hiace bensin, karena rasio giginya lebih kecil, jadi ringan," ujar salah satu teknisi SMK yang ditemui detikOto, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat, (22/5/2009).

Begitupun dengan transmisinya yang mencangkok kepunyaan Suzuki Vitara.

Namun, secara keseluruhan, dari desain dan detail, rasanya van ini sudah cukup layak untuk digunakan masyarakat indonesia, apalagi dengan daya tampung delapan penumpangnya.


Pick Up Esemka Zhangaro


Setelah mengenal 2 jenis mobil Esemka sebelumnya yakni Digdaya dan SUV. Kita beralih ke mobil Esemka lainnya yakni Zhangaro.

Si mobil niaga pun ternyata tidak luput dari perhatian anak-anak SMK Negeri 10 Malang ini.

Karenanya, berbekal mesin yang sama, mereka melahirkan Zhangaro, sebuah pick up yang diperuntukkan khusus untuk urusan komersil.

Pick up ini, sekilas memang mirip dengan Futura atau Suzuki Carry, apalagi bila menilik pada desain dashboard nya, terutama pada lingkar kemudianya.

Namun, untuk engine, tetap berlogo Esemka 1.5 i EFI, meskipun untuk sasisnya mencangkok dari Mitsubishi Colt T 120 SS, tahun 2003.

Begitupun untuk gearbox yang dimabil dari merek yang sama, yakni Mitsubishi colt T 120 SS.

Sedangkan transmisi 5 speed dari Suzuki Vitara, diklaim mumpuni untuk mengajak Zhangaro bergerak mengangkat beban.

Daihatsu Grand Max ikut andil dengan menyumbangkan headlamp, sementara Daihatsu Taft GT, mengisi penerangan buritan, atau stop lamp.

Berbahan plat setebal 1,5 mm, bak seluas 1 meter kubik cukup besar untuk memenuhi kebutuhan angkut mengangkut, dengan panjang 225 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 33 cm.


Kandungan Lokal Esemka Sudah 70%


Keinginan untuk dapat mandiri secara teknologi adalah alasan dasar Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) ketika mendorong siswa-siswa SMK untuk membuat mobil sendiri.

Siswa-siswa SMK tersebut haruslah mampu mandiri dalam memproduksi kendaraan otomotif agar dapat menjadi masa depan Indonesia di bidang ini.

Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno ketika berbincang dengan detikOto, akhir pekan lalu.

"Ini adalah upaya kami dalam mendorong kemandirian bangsa, khususnya di bidang otomotif," ujar Joko.

Joko pun menjelaskan bahwa ketika pertama kali membuat proyek ini pemerintah hanya berpikir untuk dapat membuat engine atau mesin sendiri.

Kini lanjut Joko mesin Esemka 1.5i yang digunakan di mobil Esemka sudah dapat ditangani dan diproduksi sendiri.

"Di mesin ini, kandungan lokal hasil karya kita sendiri sudah mencapai 70 persen," jelasnya bangga.

Namun ketika hal tersebut sudah dapat dilakukan, maka muncul obsesi lebih besar yakni membuat mobil sendiri.

Karena itulah kemudian Depdiknas mulai mendorong SMK-SMK pilihan untuk membuat mobil mereka sendiri.

Saat ini sudah ada 5 tipe mobil Esemka yang sudah selesai antara lain bermodel SUV, pick up double cabin, sedan, pick up single cabin dan van.

Hebatnya lagi menurut Joko, mobil-mobil ini dikerjakan dengan tangan dan hanya menggunakan alat-alat yang sederhana namun dengan hasil yang sangat memuaskan.

"Dan ini bisa dibilang sebagai sebuah lompatan yang luar biasa dari siswa SMK kita," ujarnya.


Esemka Diarahkan Jadi Mobil PNS


Mobil hasil karya anak-anak SMK yakni Esemka bakal diarahkan untuk menjadi mobil khusus para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tergabung dalam Korps Pegawai Republik Indonesia alias Korpri.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan SMK Depdiknas, Joko Sutrisno ketika dihubungi detikOto, Selasa (26/5/2009).

"Korpri itu kan isinya PNS, jadi sangat wajar kalau mereka tertarik," ujarnya.

Mobil Esemka merupakan buatan anak sekolah yang notabene anak bangsa. "Jadi sudah sepantasnya bila pegawai negeri menghargai hasil karya anak bangsa," tegasnya.

Namun untuk menjadikan mobil Esemka sebagai mobilnya para PNS masih harus melalui serangkaian dengan pejabat dan instansi terkait yang berwenang. Mendiknas Bambang Soedibyo sendiri


China Minati Esemka Digdaya



Mobil nasional buatan siswa SMK yakni Esemka ternyata mendapat respons yang sangat baik. Tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.

Bahkan salah satu varian Esemka yang bermodel double cabin yakni Digdaya ternyata sudah diminati oleh China.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno ketika berbincang dengan detikOto akhir pekan lalu.

"Rekan kerja kita dari China sudah menyatakan berminat dengan Esemka Digdaya," papar Joko.

Ketertarikan itu menurut Joko dirasa wajar, karena selain memiliki model yang cukup menawan, harga yang ditawarkan untuk Esemka digjaya pun cukup menggiurkan.

Sebab, bila varian sejenis yang di jual oleh pabrikan besar rata-rata mematok harga yang cukup mahal yakni lebih dari Rp 250 juta untuk varian double cabin mereka, tidak begitu dengan Esemka Digdaya.

Karena Joko memproyeksi harga Esemka Digdaya ini hanyalah berkisar di angka Rp 100-110 juta. "Lebih murah dibandingkan varian sejenis dari merek luar kan," ujarnya membandingkan.

Hal itulah yang menurut Joko membuat varian yang dibuat hanya dalam waktu 3 bulan ini menjadi begitu menarik perhatian.

"Bahkan bila nanti diproduksi massal, mereka sudah menyatakan siap membeli," ujar Joko bangga.

Esemka Dihargai Rp 80 Juta

Meskipun belum akan diproduksi secara massal, namun pihak Esemka sudah menargetkan harga jual mobil ini pada kisaran Rp 80 juta.

Dengan target segmentasi adalah SMK-SMK yang bisa menjadikan mobil nasional ini sebagai bahan riset dan edukasi untuk pengembangan kedepannya.

"Kita akan jual pada kisaran Rp 80 juta," ujar Staf Direktorat Pembinaan SMK, Herdiana, ketika ditemui detikOto, beberapa waktu lalu.

Meskipun secara prototipe yang ada saat ini, lanjut Herdiana, 1 unit memakan biaya sampai Rp 100 juta-175 juta.

"Itu kan prototipe, namun kalau diproduksi massal, harga jual bisa turun," ujar Herdiana.

Dengan hadirnya Esemka, bisa saja memberikan angin segar bagi para konsumen Indonesia yang selama ini sudah terkungkung dengan mobil-mobil produksi Jepang dan Eropa.

Meskipun harga-harga mobil saat ini terus mengalami kenaikan, namun dengan rentang harga Rp 80 juta, diharapkan konsumen Indonesia tetap dapat memiliki sebuah mobil.


Sumber : dari sini om....


2 Comments


salut....
semoga bisa segera terealisasikan...


asli keren bangt sumpah kalah gw,,kerennnn,,anak SMK,,soo,,,kalo ada uang pasti gw beli

Posting Komentar

Copyright © 2009 kangdoels personal site All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.